Search
Close this search box.
Search

Tanah Adalah Ibu, Air Adalah Darah: Perlawanan Perempuan Wawonii di Tengah Kepungan Tambang Nikel

Tanah Adalah Ibu, Air Adalah Darah: Perlawanan Perempuan Wawonii di Tengah Kepungan Tambang Nikel

“Kalau gunung habis, dari mana air mengalir? kalau tanah kami dipagari, bagaimana cara kami memetik cengkeh?” ujar Royani.

Ibu Royani (45) adalah salah satu sosok sentral dalam perjuangan warga Desa Mosolo dan sekitarnya di Pulau Wawonii dalam menolak kehadiran tambang nikel oleh PT Gema Kreasi Perdana (GKP). Perjuangan Ibu Royani berakar pada kepemilikan tanah warisan keluarganya.

Ia menolak keras penyerobotan lahan perkebunan Cengkeh dan Pala yang menjadi sumber nakah utama keluarganya secara turun-temurun. Selain sebagai ibu rumah tangga, Ibu Royani sehari-hari bekerja sebagai petani Cengkeh dan Pala

Tambang di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, mulai memasuki tahap eksplorasi sekitar tahun 1990-an dan mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) untuk nikel sejak tahun 2007, dengan aktivitas produksi yang kemudian berlanjut meskipun ada penolakan warga dan isu hukum terkait status pulau kecil berdasarkan UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil harusnya melindungi pulau wawonii dengan luasan hanya sekitar 867.58 km² dari ekspansi pertambangan.

Tahun 2018-2025-an, aktivitas pertambangan nikel semakin masif, memicu konlik dengan masyarakat lokal yang ingin menjaga kelestarian alam dan mata pencaharian petani kopra, beberapa sungai yang menjadi tumpuan warga untuk mandi, mencuci, dan minum mulai berubah warna menjadi coklat kemerahan akibat sedimentasi. Yang paling terdampak ialah Perempuan.

Dampak dari aktivitas pertambangan yang masif tersebut menyebabkan kualitas air sungai yang menjadi tumpuan warga menurun drastis. Para perempuan melaporkan munculnya penyakit kulit (gatal-gatal) setelah mencuci atau mandi di sungai yang tercemar selain itu ancaman kontaminasi logam berat seperti kromium valensi enam (Cr⁶⁺)⁹ menjadi kekhawatiran besar.

Paparan jangka panjang pada air yang tercemar tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga risiko gangguan ginjal dan pencemaran bagi anggota keluarga, terutama anak-anak yang daya tahan tubuhnya lebih rentan.

Udara di sekitar area konsesi tambang di Wawonii kini sering kali pekat dengan debu. Mobilisasi truk pengangkut ore (bijih nikel) yang melintasi jalanan desa menciptakan polusi udara yang konstan, pengupasan lahan-lahan di perbukitan tidak hanya memicu banjir bandang, tetapi juga mengirimkan material sedimen ke laut. Hal ini merusak terumbu karang dan mengganggu ekosistem pesisir yang menjadi tempat para ibu mencari kerang atau ikan kecil (Meti-meti).

Tanah adalah ibu, Air adalah Darah. Dalam ilosoi hidup masyarakat Wawonii, hubungan antara perempuan dan tanah bersifat sakral. Perempuan adalah pengelola utama urusan domestik yang sangat tergantung pada kelestarian alam. Saat perusahaan tambang mulai masuk ke wilayah seperti Desa Roko-Roko atau Mosolo, perempuanlah yang pertama kali merasakan dampaknya.

Kisah perempuan Wawonii adalah pengingat bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Dari pulau kecil di Sulawesi Tenggara, mereka mengirimkan pesan kuat: tanah, air, dan kehidupan tidak untuk ditukar dengan keuntungan sesaat. Selama ancaman terhadap ruang hidup masih ada, selama itu pula perempuan Wawonii akan terus berdiri, melawan, dan menjaga masa depan pulau mereka.

______

Cerita Ibu Royani yang menolak tambang di Pulau Wawonii merupakan rangkaian cerita dari Catatan Akhir Tahun 2025 Regional Sulawesi: Ragam Perlawanan Perempuan Sulawesi Melindungi & Menjaga Hutan Hujan. Baca kisah-kisah para perempuan dalam berjuang mempertahankan ruang hidupnya disini.

Foto sampuul: Kiara/Catatan Akhir Tahun 2025 Regional Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *