YKL Indonesia Gelar Pertemuan Para Pihak Guna Evaluasi Sistem Buka Tutup Gurita

YKL Indonesia Gelar Pertemuan Para Pihak Guna Evaluasi Sistem Buka Tutup Gurita

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia menggelar pertemuan para pihak pada Kamis (31/08/2023) di Makassar. Pertemuan para pihak diselenggarakan untuk evaluasi sistem buka tutup dan umpan balik data tangkapan gurita.

Nirwan Dessibali, Direktur YKL Indonesia dalam sambutannya menjelaskan jika sistem buka tutup gurita merupakan rangkaian yang panjang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Menjelang berakhirnya program yang dilaksanakan oleh YKL Indonesia, ia ingin mendapatkan masukan terkait keberlanjutan kegiatan sistem buka tutup gurita yang telah dijalankan oleh nelayan.

“Kami berharap program yang telah berlangsung selama kurang lebih 2 tahun 6 bulan itu tetap bisa berkelanjutan makanya kami melakukan pertemuan para pihak. Pertemuan hari ini merupakan rekomendasi dari pertemuan sebelumnya,” ungkapnya. 

Kegiatan ini mengundang berbagai pihak mulai dari akademisi, pihak keamanan, dinas terkait, jurnalis hingga organisasi yang fokus pada isu pesisir dan laut.

Dampak Sistem Buka Tutup

Sistem buka tutup merupakan salah satu metode yang diterapkan untuk memberikan waktu berkembang biak biota laut. Lokasi buka tutup ditentukan oleh nelayan dan akan di tutup selama kurang lebih tiga bulan lamanya.

Sistem buka tutup gurita yang telah dijalankan ini memberikan dampak baik secara ekonomi bagi nelayan, maupun juga secara ekologi laut Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai. 

Alief Fachrul Raazy, Project Coordinator PROTEKSI GAMA menjelaskan jika terjadi peningkatan ekonomi bagi nelayan dimana gurita dan ikan karang semakin banyak dengan ukuran yang semakin besar sehingga harganya lebih tinggi.

“Sepanjang bulan Juni 2021 hingga Juli 2023 total tangkapan mencapai 20 ton dengan berat tangkapan rata-rata 18,6 kg per hari. Jika dirupiahkan nilai gurita tersebut mencapai 1,2 miliar rupiah,” terangnya.

Muhammad Fauzi Rafiq, dari YKL Indonesia menjelaskan masukan-masukan dari diskusi parapihak yang dilakukan (Foto: Muhammad Riszky/Jaring Nusa)

Dari aspek ekologi, terjadi peningkatan tutupan terumbu karang yang baik sekitar 5-10 persen. Hasil monitoring yang dilakukan, terdapat 70 jenis terumbu karang di laut Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai.

“Data terakhir dari hasil reef check tahun 2023 terjadi peningkatan tutupan karang yang tadinya 20-30 persen karang hidup menjadi 25-40 persen,” ungkapnya.

Selain itu, penerapan sistem ini turut menekan ancaman aktivitas penangkapan alat yang tidak ramah lingkungan seperti bius dan bom serta eksploitasi berlebih.

“Dengan adanya penanda lokasi di wilayah yang di tutup, menjadi alarm bagi pelaku aktivitas destructive fishing,” ujarnya.

Hal ini juga turut mendorong warga untuk melindungi spesies yang terancam punah. Di Pulau Langkai, masyarakat melakukan aktivitas konservasi penyu.

“Ada beberapa spesies yang ditemukan terutama spesies penyu hijau dan sisik yang secara konsisten masyarakat melindunginya,” jelasnya.

YKL Indonesia sendiri dalam kerja-kerjanya berorientasi pada tiga aspek yakni Konservasi Ekosistem Pesisir dan Laut; (2) Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; dan (3) Penerapan Teknologi Alternatif Ramah Lingkungan.

Program sistem buka tutup gurita yang dijalankan oleh YKL Indonesia mendapatkan dukungan dari CEPF (Critical Ecosystem Partnership Fund) dan Burung Indonesia.

Untuk laporan dari program ini, dapat diakses disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *