10 Wawasan Baru dalam Ilmu Iklim 2023/2024, Mendorong Komitmen Bersama Mengatasi Krisis Iklim

10 Wawasan Baru dalam Ilmu Iklim 2023/2024, Mendorong Komitmen Bersama Mengatasi Krisis Iklim

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kurangnya tindakan mitigasi emisi GRK selama beberapa dekade telah menempatkan dunia pada jalur yang melampaui target yang disepakati secara internasional untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, yang tertuang dalam Perjanjian Paris.

Komitmen mitigasi nasional tidak cukup untuk menjaga suhu pemanasan global tetap di bawah 2°C, sehingga menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima bagi masyarakat dan ekosistem, dengan biaya yang besar namun tidak merata.

Hal ini merupakan sebuah pertaruhan berbahaya yang dapat menimbulkan dampak yang tidak dapat diubah lagi bagi kehidupan di Bumi, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati dan peningkatan risiko yang memicu titik kritis iklim. Sejauh ini pada tahun 2023, dunia telah menyaksikan peristiwa cuaca ekstrem yang menghancurkan akibat perubahan iklim.

Baru-baru ini, Future Earth, The Earth League dan the World Climate Research Programme menerbitkan sebuah laporan yang berjudul 10 New Insights in Climate Science 2023/2024. Laporan ini berisi tentang 10 wawasan baru dalam ilmu iklim, yang dihasilkan sebagai dua produk yang terdiri dari artikel ilmiah puluhan peneliti dari seluruh dunia yang ditinjau oleh rekan sejawat.

Selain itu datanya juga didapatkan dari laporan kebijakan yang memberikan sintesis yang kaya dan berharga bagi pembuat kebijakan dan masyarakat pada umumnya. Bukti ilmiah yang mendasari laporan tahun ini diterbitkan antara Januari 2022–Juni 2023.

“Tahun ini, kami menjelaskan bahwa pemanasan global yang melebihi 1,5°C tidak dapat dihindari, sebuah situasi yang akan menyebabkan peningkatan risiko dan ketidakpastian secara signifikan. Kami meminta perhatian pada anggaran karbon yang menyusut dengan cepat dan menekankan perlunya penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara terkelola dan adil,” terang Bustamante, dkk dalam laporan tersebut.

“Mengingat pentingnya penghilangan karbon dioksida untuk mencapai sasaran suhu jangka panjang, kami menguraikan tantangan terkait penerapan dalam skala besar, akuntansi, dan tata kelola,” tambahnya.

Hal ini sangat mendesak dalam konteks penelitian yang mengungkap ketidakpastian utama mengenai sejauh mana pemanasan global berdampak negatif terhadap penyerap karbon alam. Hal ini dapat mempersulit upaya menuju stabilisasi dan pembalikan suhu, sehingga semakin menambah urgensi dekarbonisasi perekonomian global dan pemahaman yang jelas mengenai peran realistis metode penghilangan karbon dioksida.

10 Wawasan Utama dalam Ilmu Iklim

Penelitian yang disoroti dalam ulasan ini menunjukkan bahwa suhu akan melampaui 1,5°C dalam jangka pendek (kecuali jika terjadi transformasi radikal). Risiko-risiko yang diuraikan merupakan seruan tegas untuk meminimalkan dampak krisis iklim, baik dalam besaran (berapa banyak) dan durasi (untuk berapa lama), sambil tetap berupaya menghindarinya.

Proyek-proyek baru untuk memperluas infrastruktur bahan bakar fosil, termasuk apa yang disebut bom karbon, meskipun jelas-jelas tidak sesuai dengan Perjanjian Paris, masih disetujui oleh para pihak dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan Perjanjian Paris.

“Dalam laporan ini kami menekankan sifat saling terkait dari hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim, yang memerlukan kerja sama kelembagaan yang efektif untuk mewujudkan solusi yang sinergis,” ujar Bustamante, dkk dalam laporan tersebut.

“Dengan meningkatnya dampak dan kerentanan iklim, kami soroti sebagai isu prioritas dalam perencanaan adaptasi, terutama karena dampaknya terhadap ketahanan pangan dan air,” tambahnya.

Taksonomi pilihan dalam penghilangan karbon dioksida (Bustamante, M., Roy, J., Ospina, D., dkk., 2023)

Adapun rangkuman dari 10 wawasan utama dalam ilmu iklim yakni:

  1. Suhu bumi melampaui batas 1,5°C tidak dapat dielakkan, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Oleh karena itu, meminimalkan tingkat dan durasi kelampauan ini sangat penting.
  2. Mempertahankan batas 2°C sesuai Perjanjian Paris dapat dicapai dengan penghapusan bahan bakar fosil secara global dengan cepat.
  3. Perlu penghapusan karbon dioksida yang efektif untuk mengatasi emisi yang sulit dihilangkan, dan kebijakan yang tegas sangat penting untuk mencapai skala yang kita perlukan.
  4. Ketergantungan yang berlebihan terhadap penyerap karbon alami sangatlah berisiko karena efektivitasnya mungkin menjadi tidak pasti akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, pengurangan emisi harus menjadi prioritas utama.
  5. Keadaan darurat iklim dan keanekaragaman hayati saling terkait, sehingga tata kelola bersama dan kolaborasi holistik sangatlah penting.
  6. Peristiwa gabungan adalah peristiwa yang terjadi ketika beberapa bahaya atau faktor terjadi secara bersamaan atau berurutan, sehingga menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan peristiwa yang terjadi secara tunggal. Hal ini memperbesar risiko iklim dan harus ditangani dalam perencanaan manajemen risiko.
  7. Mencairnya gletser di pegunungan semakin cepat, mengakibatkan banjir dan kekurangan air.
  8. Imobilitas di wilayah yang terkena risiko perubahan iklim semakin meningkat, sehingga membatasi kemampuan masyarakat untuk melakukan relokasi atau evakuasi.
  9. Mengatasi isu keadilan sosial dapat membantu adaptasi iklim yang lebih efektif dan membangun ketahanan iklim yang lebih kuat.
  10. Reformasi sistem pangan dengan mempertimbangkan kesetaraan dan keadilan sangat penting untuk aksi iklim yang adil

Mendorong Komitmen Bersama

Laporan tersebut juga memberikan beberapa dorongan dari berbagai pihak agar memiliki komitmen bersama dalam mengatasi dampak krisis iklim.

Pertama adalam mengambil langkah-langkah yang jelas menuju komitmen yang jelas untuk penghapusan seluruh bahan bakar fosil secara terkelola, mengakui risiko-risiko yang melampaui batas yang berkepanjangan, ketidakpastian mengenai masa depan penyerap karbon alami, dan tantangan-tantangan yang masih ada dalam mewujudkan peran CDR yang saling melengkapi.

Kedua, memperkuat dukungan internasional terhadap rencana adaptasi dan kesiapsiagaan, dalam menghadapi risiko-risiko yang muncul akibat tingkat pemanasan global saat ini dan yang sudah terjadi. Ketiga, menekankan pentingnya transformasi sistem pangan sebagai mesin utama aksi iklim dan keadilan iklim.

Keempat, meningkatkan integrasi perubahan iklim dan keanekaragaman hayati dalam agenda kebijakan internasional, dan lebih lanjut mendorong transformasi sistem yang holistik dan adil berdasarkan keterkaitan tantangan-tantangan yang dihadapi kehidupan di Bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *