Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dipublikasikan di jurnal Biological Conservation mengungkapkan bahwa ekosistem pesisir dunia semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim. Studi bertajuk “Effects of Climate Change on Marine Coastal Ecosystems – A Review to Guide Research and Management” yang dipimpin oleh Trégarot dkk. (2024) menyoroti habitat utama seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, hingga karang khas subtropis.
“Setiap ekosistem pesisir merespons tekanan perubahan iklim secara berbeda, bergantung pada komposisi spesies, interaksi antarspesies, serta kondisi geomorfologi,” tulis tim peneliti dalam laporan tersebut.
Temuan ini memperingatkan bahwa kenaikan suhu laut, peningkatan frekuensi gelombang panas laut, dan naiknya muka laut berpotensi mendorong ekosistem menuju tipping point. “Ketika ambang itu terlewati, pemulihan ekosistem menjadi sangat sulit, bahkan mustahil,” tambah mereka.
Studi ini juga menekankan bahwa ancaman global kerap diperparah oleh masalah lokal. “Stres lokal seperti eutrofikasi, sedimentasi, pembangunan pesisir, hingga gangguan hidrologi, seringkali memperburuk dampak perubahan iklim,” ungkap para peneliti.
Artinya, jika polusi dari daratan tidak dikendalikan, maka pemanasan laut yang semakin intens bisa melipatgandakan kerusakan.
Implikasi bagi Indonesia
Sebagai negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Terumbu karang Nusantara yang menyimpan kekayaan biodiversitas dunia kini berada dalam ancaman serius. Fenomena pemutihan karang massal yang berulang akibat suhu laut ekstrem semakin menekan daya pulih ekosistem.

Di sisi lain, mangrove dan padang lamun yang selama ini menjadi benteng alami dari abrasi dan badai menghadapi risiko ganda: rusak karena reklamasi, tercemar limbah, serta terancam tenggelam akibat naiknya permukaan laut.
“Jika tekanan lokal tidak dikurangi, Indonesia bisa kehilangan fungsi vital mangrove dan lamun sebagai pelindung garis pantai dan penyerap karbon,” jelas laporan tersebut.
Kabar baiknya, laporan ini juga memberi arah. “Mengatasi stres lokal yang bisa dikelola akan mengurangi dampak perubahan iklim,” tegas peneliti.
Bagi Indonesia, itu berarti memperbaiki pengelolaan limbah, menghentikan pembalakan dan reklamasi liar, mengendalikan sedimentasi dari hulu sungai, serta memperluas kawasan konservasi pesisir.
Pendekatan berbasis ekosistem—seperti restorasi mangrove dan padang lamun—dilihat sebagai solusi ganda: memperkuat perlindungan pantai sekaligus menyerap karbon.
Rilis ini sejalan dengan peringatan banyak pihak bahwa adaptasi pesisir harus segera menjadi prioritas pembangunan nasional. Pemerintah daerah, menurut laporan tersebut, harus lebih agresif mengidentifikasi faktor lokal di wilayahnya.
“Data yang akurat dan monitoring ekosistem sangat penting untuk mencegah ekosistem pesisir melewati titik balik,” tulis Trégarot dkk.