Puncak dampak El Nino di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus – September

Puncak dampak El Nino di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus – September

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dampak El Nino telah mulai terlihat. Berbagai wilayah di dunia mengalami kenaikan suhu, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, hingga banjir bandang yang merenggut nyawa. Di saat bersamaan, dunia tengah memasuki krisis iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya, diperburuk oleh fenomena alam ini.

Tahun 2023 tampaknya akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Data awal suhu rata-rata global bulan lalu menetapkan rekor baru pada bulan Juni.

Namun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan bahwa rekor panas baru akan jatuh pada musim panas ini. Badan PBB tersebut menyatakan bahwa suhu permukaan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tingkat laut es Arktik yang rendah sebagian besar penyebabnya. 

Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam membuat bumi semakin panas dan diperburuk oleh fenomena alami El Nino yang baru mulai berjalan beberapa bulan. Berlawanan dengan La Nina, El Niño merupakan pola iklim alami yang biasanya dikaitkan dengan peningkatan panas di seluruh dunia, serta kekeringan di beberapa bagian dunia dan hujan lebat di tempat lain.

El Nino memperburuk dampak krisis iklim yang terjadi di seluruh dunia. Saat ini Eropa, Amerika Serikat, hingga Asia, sedang mengalami gelombang panas yang mengancam dan kekeringan. Suhu di atas 40C diperkirakan akan bertahan tidak hanya di Mediterania, tetapi juga di seluruh Amerika Utara, Asia, dan Afrika Utara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak El Nino terjadi di bulan Agustus-September. Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, pemerintah dan berbagai instansi mempersiapkan langkah antisipasi dampak dari fenomena alam tersebut.

Menurut Dwikorita, pemerintah dan instansi terkait telah mengadakan pertemuan untuk membahas kesiapan menghadapi ancaman dari El Nino. Pasalnya fenomena alam ini akan berdampak pada berbagai ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, maupun banjir hidrometeorologi basah.

“Diprediksi intensitasnya lambat hingga moderat, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan serta produktivitas pangan atau berdampak pada ketahanan pangan,” kata Dwikorita dalam konferensi pers di Jakarta, 18 Juli 2023.

Menurut Dwikorita, antisipasi cuaca El Nino telah dimulai sejak Februari-April. Namun upaya tersebut akan terus diperkuat. Pihaknya juga menghimbau agar masyarakat bersiap menghadapi cuaca ke depan.

El Nino terbesar terjadi pada 2015-2016, yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 2,6 juta hektare. Terjadi bencana asap hingga ke negeri jiran dan Indonesia mengalami kerugian ekonomi hingga Rp 221 triliun.

Meskipun demikian, masyarakat dan pemerintah harus terus bersiaga. Dwikorita mengatakan, Indonesia yang berbentuk kepulauan dipengaruhi dua samudra dan memiliki topografi bergunung-gunung.

“Sehingga masih ada kemungkinan ketika satu wilayah kekeringan, daerah lainnya mengalami banjir atau bencana hidrometeorologi basah. Artinya, tidak semua wilayah serempak mengalami kekeringan,” jelas Dwikorita.

“Karena itu kami menghimbau untuk terus menjaga lingkungan, mengatur tata kelola air, dan beradaptasi pada pola tanam,” kata Dwikorita.

 

Artikel ini diterbitkan oleh Betahita.id. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *