Search
Close this search box.
Search

Ritual Adat Sangihe Dalumatehu Sembanua: Doa dan Perlawanan dari Tanah Sangihe

Ritual Adat Sangihe Dalumatehu Sembanua: Doa dan Perlawanan dari Tanah Sangihe

Di tengah bayang-bayang yang terus hadir melalui ancaman industri ekstraktif yang menggerus ruang hidup warga, warga Sangihe akan menggelar Ritual Adat Dalumatehu Sembanua. Kegiatan ini akan dilangsungkan pada Kamis, 20 November 2025 yang berlokasi di Rumah Raja di Kampung Talroarane – Manganitu.

Perjuangan menyelamatkan pulau Sangihe dari ancaman kerusakan lingkungan yang mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi dan budaya apabila hadir industri ekstraktif, lahir dari sebuah kesadaran, komitmen dan kecintaaan terhadap ruang hidup suku Sangihe.

Operasi PT Tambang Mas Sangihe (TMS) serta praktik pertambangan ilegal yang dilakukan di Pulau Sangihe telah menyebabkan kerusakan yang parah di pulau serta ekosistem lautnya. Perusakan tambang yang dimulai dari masuknya PT TMS pada tahun 2021, setelah mengantongi IUP mulai dari 2021-2054. Sejak 2021 itu terjadi aktivitas penambangan di lokasinya di Kampung Bowone.

“Sedimentasi sudah menjadi 1,5 meter tingginya. Sampai hari ini mereka beroperasi. Mereka terkadang dikawal untuk mobilisasi alat berat ke lokasi tambang,” terang Jull Takaliuang, pada sharing session Jaring Nusa (21/01/2025).

Dalam situasi penegakan hukum yang tidak berpihak kepada perjuangan warga, lalu berinisiatif untuk menggelar kegiatan adat. Dukungan dari berbagai organisasi seperti Greenpeace, JATAM, KontraS, Econusa, ICW, Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia (JN-KTI), Mama Aleta Fund (MAF), ICEL, hingga Miningwatch Canada, memperkuat gerakan ini sebagai perjuangan lintas.

Potret pertambangan di Pulau Sangihe. (Foto: Alif R Noudy Kuroa/ Greenpeace)

Sebelumnya pada pertengahan Oktober 2023, melalui proses refleksi panjang dalam sebuah diskusi dengan para tetua adat, sebuah kesadaran besar muncul bahwa segmen penting dengan kekuatan besar yang bisa menjadi salah satu pilar penyelamatan Sangihe, adalah kearifan lokal, budaya dan adat-istiadat Sangihe.

Jull Takaliuang yang juga merupakan bagian dari Selamatkan Sangihe Ikekendage (SSI) menjelaskan jika Ritual Adat Dalumatehu Sembanua tidak sekadar seremonial belaka, tapi memiliki berbagai makna dan nilai yang mendalam.

“Kegiatan ini sebagai simbol ungkapan rasa syukur atas bumi, laut, hutan dan gunung di Sangihe yang diwariskan oleh leluhur. Juga sebagai bentuk memohon perlindungan, menjaga keseimbangan ekosistem dan edukasi ekologis kepada generasi muda,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini ia berharap tetap meningkatkan solidaritas warga dan juga berbagai organisasi yang telah mendukung perjuangan untuk melindungi Pulau Sangihe dari ancaman kerusakan yang massif.

“Semoga sang khalik, para leluhur dan semesta menguatkan jalan perjuangan panjang untuk menyelamatkan Sangihe sebagai ruang hidup yang aman dan nyaman bagi anak turun temurun Suku Sangihe,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *