Sekolah Kampung Econusa di Kampung Gisim dan Klajaring, Kabupaten Sorong

Sekolah Kampung Econusa di Kampung Gisim dan Klajaring, Kabupaten Sorong

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Sudah bukan rahasia bahwa Tanah Papua tak hanya kaya akan keanekaragaman hayati daratnya, namun juga memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah. Hal inilah yang menjadi penopang dan sumber penghidupan utama masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir, seperti masyarakat di Kampung Gisim dan Kampung Klajaring, Distrik Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Sebagian besar masyarakat di kedua kampung tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan. Setiap harinya, mereka berlayar untuk menjaring hasil laut seperti ikan, udang, dan kepiting. “Kami di sini kebanyakan nelayan di lao (laut). Setiap hari saya bawa honda (kapal) dan bawa jaring, keluar cari ikan, udang, lalu jual. Harga yang kecil Rp50 ribu, yang besar Rp65 ribu,” kata Erik, salah satu nelayan dari Kampung Klajaring saat diwawancara pada 9 Februari 2023.

Jaring adalah sarana utama untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di Kampung Gisim dan Kampung Klajaring. Melihat masyarakatnya yang menggantungkan hidup pada hasil laut, Pemerintah Kampung Gisim menganggarkan dana kampung untuk pengadaan jaring. Pada 2022, Pemerintah Kampung memberikan sebanyak 70 buah jaring yang dibagikan masing-masing tiga jaring untuk setiap kepala keluarga.

Namun jaring-jaring yang dibeli baik oleh pemerintah maupun masyarakat tidak bertahan terlalu lama. Ketika pergi melaut, tidak jarang jaring yang digunakan rusak dan membuat hasil tangkapan menjadi tidak maksimal. Ketika jaring rusak, biasanya masyarakat langsung membuangnya dan membeli jaring baru.

Yayasan EcoNusa menginisiasi pelatihan menjahit jaring dalam program Sekolah Kampung yang diikuti oleh masyarakat dari Gisim dan Klajaring. Para peserta diajarkan cara menambal jaring dan menggunting jaring yang rusak untuk diperbaiki.

Pelatihan yang dilaksanakan pada 8-9 Februari 2023 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat kampung untuk menganyam jaring, sehingga dapat memaksimalkan hasil tangkapan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan jaring. Dengan begitu, harapannya perekonomian masyarakat pun ikut tumbuh.

“Biasanya kami dari kampung juga melakukan pengadaan jaring. Tapi kalau jaring rusak, langsung dibuang. Tong (kami) jadi harus pengadaan lagi. Ini karena dorang belum memahami caranya menjahit jaring,” ucap Imanuel Klafiyu, Kepala Kampung Gisim. Imanuel berharap, dengan adanya pelatihan ini dana kampung bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya yang lebih urgen, selain untuk membeli jaring.

Sekolah Kampung yang berjalan selama dua hari ini diikuti oleh 16 nelayan laki-laki dan 8 nelayan perempuan dari kedua kampung. “Tangan masih berat karena selama ini tidak pernah menganyam jaring. Dua hari pelatihan anyam jaring, pelan-pelan saya su (sudah) bisa menganyam jaring. Sekolah Kampung ini membuat saya mengalami perubahan,” ujar Erik.

Respons positif datang dari peserta lainnya, yakni Jhony Sede. Dia sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan menjahit jaring karena membuka peluang usaha baru baginya. Setelah pelatihan ini, dia berencana akan membuka usaha tambal jaring untuk nelayan-nelayan lain dengan tarif yang disesuaikan kondisi kerusakannya.

“Tantangan yang kami hadapi di sini adalah jangkauan kita punya akses ke kota sulit. Harus dua kali jalan, pertama naik long-boat lalu lanjut naik mobil lagi. Perlu keluar uang banyak,” cerita Stevanus Klawom, Kepala Kampung Klajaring.

Kampung Gisim dan Klajaring memang memiliki potensi perikanan yang tinggi. Bila musim sedang baik, dalam sepekan nelayan bisa mendapat udang sebanyak 400 kilogram yang dijual kepada pengepul untuk dibawa ke kota Sorong. Sejauh ini masyarakat memanfaatkan hasil tangkapannya untuk konsumsi dan sebagiannya lagi dijual kepada pengepul kecil dan pedagang yang ada di kampung saja.

Edison, Sekretaris Kampung Klajaring yang juga nelayan juga mengeluhkan tentang rendahnya harga jual hasil tangkapan mereka. Padahal, biaya yang mereka perlu keluarkan untuk membeli bahan bakar kapal cukup tinggi sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang kecil.

Dia berharap masyarakat terus didampingi dan diberi pelatihan-pelatihan lanjutan yang bisa menambah pengetahuan dan kemampuan masyarakat sehingga bisa meningkatkan taraf hidup dan menumbuhkan perekonomian lokal di Gisim dan Klajaring.

 

Sumber: Econusa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *