Transisi Energi yang Harus Adil, untuk Siapa?

Transisi Energi yang Harus Adil, untuk Siapa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Transisi energi yang adil bukan sekadar mengganti BBM dan listrik ke sumber energi bersih, tapi juga tentang memastikan semua orang dapat merasakan manfaatnya. Ini berarti, saat kita beralih ke energi seperti matahari atau angin, kita juga harus memikirkan bagaimana hal ini dapat membantu peningkatan sosial-ekonomi masyarakat, dan bukan hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Dalam proses ini, kita juga perlu memikirkan siapa yang mengatur dan memiliki kontrol atas energi ini. Selama ini, biasanya hanya sedikit orang atau perusahaan besar yang punya kuasa atas energi. Tapi, untuk transisi yang adil, kita harus berupaya mengubah ini sehingga lebih banyak orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengaksesnya.

Untuk melakukannya, kita juga harus memastikan semua prosesnya terbuka dan semua orang bisa ikut campur dalam membuat keputusan tentang energi. Dengan cara ini, kita bisa menuju ke masa depan di mana setiap orang bisa ikut menentukan arah dan manfaat dari energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dalam versi lain, transisi energi yang adil harus mempertimbangkan beberapa aspek penting. Pertama, prosedural, di mana partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan perlu dijamin oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Partisipasi yang adil dapat terwujud dengan adanya informasi yang transparan, mengenai segala keputusan. Karena itu, akses yang adil terhadap informasi menjadi bagian tidak terpisahkan dari partisipasi yang bermakna.

Temuan di atas menunjukkan tingginya kesadaran serta harapan generasi muda terhadap isu krisis iklim belum selaras oleh kebijakan dan kondisi yang ada saat ini. Karena itu, penting bagi pemerintah untuk selalu melibatkan peran aktif masyarakat sebagai penyumbang ide mengenai aspek-aspek kebijakan dalam transisi energi. (Riset Yayasan Indonesia Cerah)

Kedua, aspek distribusi. Aspek ini berarti masyarakat tidak hanya menanggung beban dari dampak transisi energi, tetapi juga harus merasakan manfaatnya. Aspek atribusi diharapkan dapat terjadi dalam usaha mentransformasi energi, yaitu menciptakan kesetaraan dalam manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan oleh transisi ini.

Selain itu, konsep keadilan restoratif juga penting dalam konteks pemulihan dari dampak transisi energi. Keadilan restoratif artinya jika ada kerugian atau dampak negatif di sebagian masyarakat, maka harus ada upaya untuk memulihkan dan mengembalikan kondisinya jadi lebih baik.

Lebih jauh, keadilan dalam konteks JETP melibatkan ide bahwa proyek-proyek transisi energi harus memiliki dampak positif pada ekonomi masyarakat yang lebih luas. Alasannya sederhana, selama ini, sektor energi di Indonesia cenderung terpusat dalam kendali kalangan elit. Banyak lembaga telah menyoroti urgensi perubahan kepemilikan energi, agar tidak hanya dikuasai oleh elit ekonomi, tetapi juga oleh komunitas masyarakat atau pekerja.

Jadi, transisi energi yang adil pada hakikatnya bukan hanya peralihan sumber energi. Ini adalah tentang mengubah cara pandang ekologi, sosial, dan ekonomi dalam mengoptimalkan potensi energi, sehingga lebih banyak orang merasakan manfaatnya.

 

*Artikel ini merupakan bagian dari riset yang dilakukan oleh Yayasan Indonesia Cerah “Panduan Komunikasi Kebijakan Transisi Energi: Dari Narasi Ke Aksi Bersama”. Baca hasil riset selengkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *