Penguatan Produksi Pangan Lokal di Tengah Dampak Perubahan Iklim

Penguatan Produksi Pangan Lokal di Tengah Dampak Perubahan Iklim

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Perubahan iklim mengganggu produksi beras di banyak negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena itu, diversifikasi pangan pokok alternatif pengganti nasi merupakan hal penting untuk memastikan ketahanan pangan.

Belum makan kalau belum makan nasi”, begitu kata orang-orang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pada umumnya. Nasi menyediakan 50% asupan kalori bagi penduduk di Asia Tenggara.

Sayangnya, kekeringan dan suhu yang lebih hangat di Asia Tenggara mendatangkan dampak buruk, dan kita melihat adanya penurunan produksi beras. Di tengah perubahan iklim yang semakin intens, diversifikasi pangan pokok alternatif pengganti nasi merupakan hal penting untuk mendukung ketahanan pangan.

Tantangan Produksi Beras di Asia Tenggara

Produksi beras di Asia dapat melimpah karena iklim hangat, curah hujan tinggi, tenaga kerja murah, dan kondisi cuaca yang mendukung—kondisi ideal untuk pertanian padi. Selain itu, beras juga memiliki ikatan budaya dan sejarah yang kuat di Asia. Namun, banyak negara di Asia Tenggara menghadapi sejumlah tantangan dalam produksi beras.

Thailand, contohnya, meminta para petaninya untuk mengurangi penanaman padi demi menghemat air dan beralih ke tanaman lain yang tahan kekeringan. Vietnam dan Indonesia juga menghadapi masalah serupa.

Vietnam telah mengumumkan rencana untuk mengalihkan ekspornya ke beras berkualitas tinggi, yang secara efektif mengurangi ekspor beras dari 7,1 juta ton saat ini menjadi 4 juta ton pada tahun 2030.

Sedangkan Indonesia memutuskan untuk mengimpor 3 juta ton beras pada tahun 2024 untuk menutup kekurangan pasokan akibat perubahan pola cuaca.

Beralih ke makanan pokok alternatif akan bermanfaat ketika produksi beras terganggu.

Jagung merupakan salah satu pangan lokal di Indonesia

Dalam konteks Asia Tenggara, pangan pokok alternatif menjadi bagian penting dalam pola makan seseorang sebagai pengganti nasi. Beberapa tanaman non-padi yang menjanjikan untuk dipertimbangkan sebagai makanan pokok alternatif antara lain:

  • Sorgum: Sereal tropis asli Afrika ini banyak dibudidayakan di Afrika tropis dan subtropis serta Asia. Sorgum merupakan sumber energi yang baik dengan indeks glikemik rendah karena mengandung 75% karbohidrat kompleks. Sorgum juga tahan terhadap kekeringan dan tumbuh cukup baik di tanah yang tidak subur.
  • Jagung: Banyak ditanam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Rata-rata 100 gram jagung mengandung 365 kalori. Jagung juga mengandung beberapa antioksidan, vitamin, dan mineral.
  • Sagu: Merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara, terutama Malaysia, Indonesia, Papua Nugini, dan Filipina. Sagu dapat dikonsumsi sebagai makanan pokok yang mengandung kurang lebih 90% karbohidrat per 100 gramnya. Kandungan seratnya juga dapat membantu meningkatkan kesehatan usus.
  • Singkong: Singkong sudah menjadi tanaman umbi-umbian yang banyak dibudidayakan di negara-negara berkembang tropis. Singkong dianggap sebagai makanan pokok alternatif yang penting bagi lebih dari setengah miliar orang. Singkong kaya akan kalori dan vitamin C. Singkong mudah beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan mudah ditanam. Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Kamboja adalah produsen singkong terbesar ketiga, keenam, ketujuh, dan kesembilan di dunia, dengan luas lahan mencapai 3,5 juta hektare.
  • Ubi jalar: Tanaman umbi-umbian ini berasal dari tiga wilayah tropis di Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan. Ubi jalar mengandung 118 kalori karbohidrat per 100 gram, dan juga tinggi vitamin C, serat, vitamin B6, potasium, dan nutrisi penting lainnya yang baik untuk kesehatan.

Strategi Diversifikasi Pangan

Pangan pokok alternatif sangat beragam dan penting dalam memastikan ketahanan dan keamanan pangan di tengah perubahan iklim.

Diversifikasi pangan juga penting dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, serta dapat membantu mendorong pola makan yang lebih sehat bagi semua orang, terutama jika didukung dengan kebijakan agropangan yang kuat.

Strategi diversifikasi pangan mencakup banyak hal, mulai dari transformasi agribisnis dari pendekatan monosektoral menjadi multisektoral dalam pertanian pangan hingga penyediaan infrastruktur yang tepat agar hasil panen terjangkau dan mudah diakses.

Selain itu, edukasi juga penting untuk mengubah perilaku konsumen agar tidak bergantung pada beras. Pada akhirnya, selain daftar makanan pokok alternatif, upaya mencapai diversifikasi pangan memerlukan kerja sama seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan sistem pangan yang adil, inklusif, dan berketahanan iklim.

Artikel ini diterbitkan oleh greennetwork.id. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *