Di sebuah dusun kecil di pesisir, setiap kali awan hitam berkumpul, anak-anak berlari pulang dengan wajah cemas. Bukan karena takut dimarahi orang tua, melainkan karena ingatan mereka masih menyimpan banjir tahun lalu yang merendam rumah hingga atap. “Kalau hujan deras begini, jangan-jangan banjir datang lagi,” kata seorang bocah sambil menggenggam erat tangannya.
Kisah itu bukan hanya cerita tentang cuaca, tapi tentang pikiran yang terus dibayang-bayangi ketidakpastian. Inilah wajah lain dari krisis iklim: luka batin yang tak terlihat.
Dalam artikel “Climate change and its impact on mental health” yang terbit di jurnal Neuropsychiatrie pada Agustus 2025, para peneliti menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar urusan lingkungan.
“Perubahan iklim memiliki dampak yang luas terhadap kesehatan mental, mulai dari kecemasan, depresi, hingga stres pascatrauma,” tulis mereka.
Mereka menyoroti fenomena baru seperti eco-anxiety—kecemasan berlebihan terhadap masa depan bumi—dan solastalgia—kesedihan mendalam karena lingkungan berubah.
“Kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan kekeringan, secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan prevalensi gangguan psikiatri,” jelas tim penulis.
Kelompok yang paling rentan, menurut penelitian ini, adalah anak-anak, orang tua, dan masyarakat miskin.
“Mereka memiliki kapasitas adaptasi yang lebih rendah dan lebih rentan terhadap tekanan psikologis akibat perubahan lingkungan yang cepat,” tambah peneliti.
Apa yang ditulis para ilmuwan dunia ini selaras dengan situasi di tanah air. Sebuah penelitian di Setu, Tangerang Selatan, menemukan bahwa dari 76 siswa SD, sekitar 75% menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental akibat perubahan iklim.
“Kami menemukan bahwa anak-anak merasakan cemas, gangguan tidur, hingga kelelahan, yang terkait dengan paparan banjir dan perubahan musim,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.
Peneliti Universitas Indonesia juga menegaskan hal serupa dalam artikel “Breaking the Silence: Climate Change and Youth Mental Health in Indonesia”. Generasi muda di Indonesia menghadapi beban ganda: tekanan dari kehidupan sehari-hari dan ketidakpastian akibat krisis iklim. Hal ini meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
Krisis iklim adalah cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya manusia, bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya. Di balik angka suhu global yang naik, ada anak-anak yang sulit tidur. Di balik grafik curah hujan yang melonjak, ada petani yang kehilangan keyakinan.
Tetapi ada cara untuk bertahan. Ketika anak muda terlibat dalam aksi lingkungan, mereka merasa lebih berdaya. Itu bukan hanya melindungi bumi, tapi juga kesehatan mental mereka. Dan mungkin, dari kalimat sederhana itu, kita belajar bahwa merawat alam berarti merawat jiwa.