Partisipasi Multipihak Dorong Rehabilitasi Pemulihan Mangrove

Partisipasi Multipihak Dorong Rehabilitasi Pemulihan Mangrove

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jaring Nusa, Japesda Gorontalo dan FMIPA Universitas Negeri Gorontalo menggelar diskusi dalam rangka peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada Sabtu (21/05/2022). Tema yang diangkat yakni Degradasi dan Upaya Rehabilitasi Hutan Mangrove, Bagaimana Masa Depan Wilayah Pesisir Kita.

Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini digelar di Jurusan Biologi FMIPA UNG dengan menghadirkan 4 narasumber. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 09.00 – 12.30 WITA.

Degradasi Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove terkait dengan fungsi ekologis, fisik, kimia dan jasa/potensi ekosistem yang meliputi komponen hidrologi, fisik kimia dan tanah. Perkembangan mangrove tidak akan berjalan maksimal jika hidrologinya terganggu.

Abu Bakar Sidik Katili, dosen dan peneliti Jurusan Biologi UNG menilai jika potensi mangrove sangatlah penting terkait dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

“Para ahli mengatakan tindakan yang dilakukan manusia secara radikal dapat memberikan efek pada biodiversitas. Jasa lingkungan mangrove memiliki potensi yang tinggi untuk menyerap karbon,” ungkapnya.

“Kita melihat mangrove dapat menyerap karbon dua kali lebih besar dari pohon yang ada di terrestrial,” tambahnya.

Sementara itu Direktur Japesda Gorontalo, Nurain Lapolo menjelaskan kondisi mangrove telah mengalami penurunan yang massif. Khusus di Gorontalo saat ini kurang lebih 60-70% mangrove hilang.

“Kondisi mangrove dari tahun ke tahun terus berkurang paling banyak yang dikonversi kurang lebih ada sekitar 10 ribu lebih mangrove,” terangnya.

“Pohuwato adalah penyumbang konversi mangrove nomor satu di Provinsi Gorontalo. Tahun 2011 data mangrove ada 23 ribuan hektar dan di tahun 2021 tinggal tersisa 7 ribuan hektar mangrove di Provinsi Gorontalo,” tambahnya.

Sejalan dengan hal itu, Direktur Yayasan Hutan Biru (Blue Forest) Rio Ahmad mengungkap jika tambak menjadi salah satu penyebab luasan mangrove berkurang. Sehingga melalui kegiatan dari Yayasan Hutan Biru membuat mekanisme intervensi kepada masyarakat agar tidak menebang mangrove untuk menjadi lahan tambak.

“Indonesia dengan luasan mangrove sangat besar itu menurun luasanya menurun, ketika adanya tambak. Ini tipologi yang disusun oleh teman-teman Blue Forest dalam konteks landscape mangrove yang diambil dari situasi pengelolaan mangrove Indonesia,” jelasnya.

Rehabilitasi dan Partisipasi Multipihak

Muhammad Yusuf dari Kapokja Partisipasi dan Kemitraan BRGM menjelaskan bahwa ekosistem lahan basah Indonesia sangat tinggi. Hal itu menjadi potensi Indonesia dalam mengurangi permasalahan perubahan iklim.

“Wilayah kerja BRGM ini target kami untuk ekosistem gambut 1,3 juta hektar untuk mangrove sendiri 600 ribu hektar,” jelasnya.

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) berfungsi untuk mengkoordinasi dan melakukan percepatan. Ia menyampaikan bahwa terdapat 3 unsur utama percepatan yakni dibasahi, ditanami dan direvitalisasi.

“Masalahnya selama ini kerusakan terjadi sangat luar biasa terkait dengan mangrove. Mulai dari problem sosial, ekonomi dan alih fungsi yang terakumulasi sehingga hari ini kondisi mangrove kita makin terdegradasi,” tambahnya.

Rio Ahmad juga menitikberatkan pentingnya perencanaan rehabilitasi mangrove dengan menganalisa topologi dan kolaborasi para pihak untuk keberlanjutannya.

“Bagaimana kita memahami ketinggian substrat, dengan mengupayakan spesies berdasarkan kondisi lokasi, mencontoh tingkat kemiringan dan topografi substrat. Kita juga harus memahami propagul mangrove untuk membantu percepatan rehabilitasi mangrove,” jelasnya.

Di akhir, Muhammad Yusuf juga mendorong partisipasi dari semua pihak agar keberlanjutan ekosistem mangrove melalui edukasi perubahan perilaku dan integrasi dengan pembangunan desa.

 

Penulis: Muhammad Riszky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *