Pulau Lanjukang, merupakan pulau terdepan dari Kota Makassar yang juga bagian dari perairan Spermonde. Banyak orang mengenal Pulau Lanjukang sebagai salah satu destinasi wisata pantai dan laut yang populer.
Pasirnya yang putih serta lautnya yang dapat kita jumpai dalam empat warna biru. Namun, keajaiban justru tersembunyi di balik riak permukaannya. Keindahan bawah lautnya tak kalah dengan kondisi permukaan, dipenuhi oleh terumbu karang dan berbagai biota laut semakin memanjakan kita untuk menikmati Pulau Lanjukang.
Namun di tengah situasi tersebut, Pulau Lanjukang tidak terlepas dari ancaman. Ancaman nyatanya adalah dampak krisis iklim yang membuat kenaikan suhu air laut. Kondisi ini menyebabkan terumbu karang cepat memutih.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebuah lembaga riset dari Amerika Serikat menjelaskan jika suhu naik antara 0-1 °C akan menyebabkan stress pada karang. Jika suhu terus bertahan maka akan menyebabkan putih dan berakhir dengan kematian.
Matinya karang tentu akan menimbulkan hilangnya biota laut lainnya sehingga membuat potensi pariwisata hilang. Hal ini juga menyebabkan nelayan akan semakin jauh untuk melaut untuk mendapatkan ikan.
Dampak negatif akibat krisis iklim ditambah dengan berbagai faktor yang menyebabkan penurunan kualitas ekologi di perairan Pulau Lanjukang mendorong masyarakat untuk menerapkan solusi berkelanjutan yaitu melalui sistem buka tutup penangkapan gurita.
Ketika Laut Butuh Istirahat
Buka tutup penangkapan gurita merupakan inisiasi nelayan di Pulau Lanjukang dan Langkai yang dimulai sejak tahun 2021. Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mendampingi sejak awal hingga penerapannya. Awalnya para nelayan tidak mengenal sistem tersebut, lantaran sejak turun temurun hanya langsung menangkap ikan di laut tanpa adanya area yang ditutup sementara.
Hal yang mendorong nelayan untuk menerapkan sistem buka tutup penangkapan gurita karena terdapat perilaku penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti bius dan bom di perairan Lanjukang dan Langkai. Belum lagi faktanya jika perairan di kedua pulau tersebut menjadi lokasi penangkapan dengan keanekaragaman yang tinggi, nelayan dari luar pulau lainnya pun datang untuk menangkap ikan.
Kesadaran nelayan untuk melindungi wilayah lautnya dari ancaman kerusakan yang parah mendorong diterapkannya sistem tersebut. Sistem buka tutup penangkapan gurita merupakan upaya dalam memberikan waktu gurita untuk bertumbuh dan mencapai berat yang layak untuk ditangkap oleh nelayan. Sistem ini ditutup berdasarkan kesepakatan nelayan Pulau Lanjukang dan Langkai dengan durasi 3 bulan.
Setelah mendapatkan pendampingan dan juga belajar dari nelayan di Kabupaten Wakatobi, akhirnya nelayan sepakat untuk melakukan uji coba dengan menutup area seluas 203,42 hektar sejak Februari – Maret 2022. Uji coba kedua pada area seluas 116,64 hektar sejak Agustus – Oktober 2022.

Laut Pulih, Nelayan Tersenyum
Riset tutupan karang yang dilakukan oleh YKL Indonesia bersama dengan nelayan di Pulau Lanjukang dan Langkai pada tahun 2021 mendapatkan persentase tutupan karang rerata 20 persen. Jika melihat aturan Kepmen LH No. 4/2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang, maka tutupan karang di kedua pulau tersebut masuk dalam kategori rusak ringan.
Sistem buka tutup penangkapan gurita dilakukan oleh nelayan berdampak terhadap perbaikan kualitas terumbu karang sejak penerapannya. Data dari YKL Indonesia yang melakukan reef check pada tahun 2023 menunjukkan persentase tutupan karang hidup menjadi 25 – 40 persen.
Naiknya persentase tutupan karang hidup juga berdampak terhadap biota laut yang terancam punah ditemukan di perairan Lanjukang. Berdasarkan hasil observasi ditemukan 6 spesies yakni Whale shark (Rhincodon typus), thresher shark (Alopias sp.), Shortfin mako (Isurus oxyrinchus), Black tip (Carcharhinus sp.), Hawksbill sea turtle (Eretmochelys imbricata) dan Green sea turtle (Chelonia mydas).
Gurita sendiri juga mengalami peningkatan dari segi berat dan jumlah tangkapan nelayan. Sepanjang Juni 2021 hingga Juli 2023, YKL Indonesia mencatat total tangkapan mencapai 20 ton dengan rerata berat 18,6 kg per hari. Nilainya sendiri mencapai 1,2 miliar rupiah.

Penulis berkesempatan untuk melihat pembukaan area buka tutup penangkapan gurita di Pulau Lanjukang pada April 2025. Setelah ditutup selama 3 bulan, nelayan dari Pulau Lanjukang dan Langkai secara serentak menangkap gurita. Hanya dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit, nelayan berhasil mendapatkan 52 ekor gurita dengan berat total 54 kg.
Bukan hanya jumlah dan beratnya yang besar, melainkan kualitas guritanya juga meningkat. Dari hasil pencatatan yang dilakukan, sebanyak 5 ekor masuk kategori grade A, 17 ekor grade B, 25 ekor grade C, dan masing-masing 1 ekor untuk grade D dan E. Hal itu tentunya membuat harga gurita juga semakin besar dan menambah pemasukan bagi nelayan itu sendiri.
Rekognisi yang Menginspirasi
Penerapan sistem buka tutup penangkapan gurita tidak hanya sebatas pada penutupan lokasi, tapi yang paling penting adalah adanya kepastian hukum untuk melindungi eksistensi upaya yang telah dilakukan nelayan. Pada tahun 2025, nelayan melalui Forum Pasibuntuluki telah mengajukan lokasi penangkapan mereka masuk dalam Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Pulau Lanjukang.
Konsultasi publik yang dilakukan pada Kamis (22/05/2025 sebagai upaya percepatan KKD Pulau Lanjukang. Konsultasi ini dihadiri berbagai stakeholder untuk merumuskan kebijakan yang berpihak kepada nelayan dalam melindungi upaya yang telah dilakukan selama kurang lebih 4 tahun.

Usulan KKD Pulau Lanjukang mencakup area seluas 1.653,53 hektar yang telah direncakan sebagai bagian dari upaya perlindungan ekosistem laut. Nelayan mendorong pemerintah untuk merealisasikan pengakuan atas upaya mereka dengan memasukkan area buka tutup penangkapan gurita ke dalam KKD Pulau Lanjukang. Hal itu akan berdampak terhadap keberlanjutan ekosistem laut serta ekonomi nelayan yang terus bertumbuh.
Pembelajaran dari Pulau Lanjukang dan Langkai dalam menjaga sumber daya lautnya secara berkelanjutan dengan serangkaian aktivitas panjang menjadi ruang belajar yang dapat direkognisi di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini semakin memperkaya upaya nelayan di Indonesia dalam menjaga lautnya. Di Maluku dan Papua terdapat sasi, di Lombok ada awig-awig dan penerapan buka tutup sendiri telah banyak dilakukan pada berbagai daerah.
Bukti bahwa nelayan punya cara sendiri dan arif dalam menjaga lautnya, tidak hanya untuk jangka pendek melainkan jangka panjang. Berbagai pembelajaran ini dapat menjadi acuan kepada pemerintah dalam membuat kebijakan yang berpihak terhadap masyarakat yang ada di pesisir, laut dan pulau kecil.
Karena laut yang sehat bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang generasi yang akan datang yang seharusnya masih bisa menikmati keindahan dan manfaatnya!
Foto utama: Pulau Lanjukang dari udara. (Foto: YKL Indonesia)
Tulisan ini ditulis Muhammad Riszky, sekretariat Jaring Nusa dan telah diupload pada Fakta Ekologi WALHI Sulsel